Universitas Lampung
http://lemlit.unila.ac.id/index.php?go=menudua&idmenudua=144
SITI HUDAIDAH
PS. Budidaya Perairan, Fakultas Pertanian Universitas Lampung
ABSTRAK
Budidaya ikan kerapu lumpur (Epinephelus tauvina) mulai dikembangkan di Indonesia karena
memiliki prospek yang baik yang ditandai dengan meningkatnya permintaan masyarakat
dalam dan luar negeri. Keberhasilan suatu usaha budidaya bisa terhambat akibat adanya
penyakit yang akan timbul apabila lingkungan kurang baik. Penyakit yang disebabkan oleh
infeksi parasit dapat menimbulkan gangguan pertumbuhan, penurunan produksi bahkan
kematian yang akan merugikan usaha budidaya. Parasit tumbuh dan berkembang dengan
menempel pada inangnya. Berdasarkan organ inang yang diserang parasit dibedakan menjadi
endoparasit dan ektoparasit. Pemeriksaan dan inventarisasi penyakit parasit dilakukan pada
ikan yang menunjukkan ketidaknormalan kebiasaan yang dibesarkan di bak semen dan
keramba jaring apung di Balai Budidaya Laut Lampung. Berdasarkan identifikasi yang
dilakukan terhadap parasit yang ditemukan maka didapat cacing Nematoda sp dan kistanya
serta Digenea yang termasuk endoparasit. Dari golongan ektoparasit didapat cacing Benedia
sp, Diplectanum sp, Pseudorhapdosynchus sp, Haliotrema sp dan Isopoda sp. Parameter
kualitar air yang diukur selama pembesaran ikan kerapu lumpur (Epinephelus tauvina)
meliputi suhu yang berkisar 28-31.5 oC, salinitas 30-34 ppt, DO 4.01-4.89 ppm, NO2 0.01-
0.058 ppm, PO4 0.001-0.03 ppm, NH3 0.024-0.415 ppm dan BO 44.24-59.29 ppm. Infeksi
parasit pada ikan dapat menyebabkan infeksi sekunder oleh bakteri, jamur dan virus.
Berdasarkan akibat serangan maka endoparasit lebih berbahaya bagi ikan dibandingkan
ektoparasit karena serangan endoparasit sulit dideteksi pada tahap dini.
Kata kunci: Infeksi, endoparasit, ektoparasit.